Pekerjaan Beton Bertulang untuk Bangunan Rumah

Beton yang digunakan mutu f’c = 16,9 MPa (K 200) untuk beton struktur terdiri dari campuran semen, air, dan Agregat ( Pasir dan kerikil beton). Setelah beton mengeras, maka harus diperoleh suatu material yang rapat, padat dan awet yang akan mempunyai beton karakteristik sesuai spesifikasi.
Kode dan Standar
- PUBI 1970/NI-3 & ASTM untuk air beton
- PBI 71 NI-2; PUBI 1970/NI-3 & ASTM untuk agregat beton
- SII 1984 & ASTM C150 untuk bahan semen
- SII 1984; BS 4449 atau BS 4461 untuk baja tulangan
- PBI 71; BS 8100 & ASTM untuk Campuran Beton
- SK SNI T-15-1991-03


Bahan Beton

a. Semen Portland (PC)
Semen portland (PC) yang digunakan adalah semen jenis I dengan standar mutu SlI 0013-81 dan sesuai dengan SNl 15.2049.1994 serta memenuhi persyaratan kimia dan fisik sesuai tabel 1-1 dan 1-2 PUBI tahun 1982. Semen harus sampai di tempat kerja dalam kondisi baik serta dalam kantong-kantong semen asli dari pabrik. Semen harus disimpan dalam gudang yang kedap air, berventilasi baik, di atas lantai setinggi 30 cm. Kantongkantong semen tidak boleh ditumpuk lebih dari 10 lapis.

b. Agregat (pasir, split atau batu pecah
Agregat kasar untuk beton dipakai batu pecah split dengan ukuran max. 25 mm dari jenis batu keras dan tahan aus. Butiran yang lapuk, lonjong dan pipih tidak diperkenankan melebihi prosentase yang disyaratkan dalam standar SKSNI 1991.

Agregat halus adalah pasir sungai atau dari sumber lainnya yang memenuhi syarat kebersihan, kekerasan dan gradasi butir yang sesuai dengan standar SK-SNI 1991 dan ASTM.

c. Besi Tulangan.
Tulangan harus memenuhi standard dan dimensi yang tertera dalam gambar. BJTP (polos) yang mutunya harus memenuhi tegangan leleh minimum fy 240 MPa untuk beton non struktur dan BJTD (Diform/ulir) untuk beton struktur dan harus memenuhi tegangan leleh minimum fy 370 MPa(di periksa dengan standar SII, BS 4449 atau BS 4461).

BJTP digunakan untuk diameter lebih kecil dengan 10 mm sedang BJPD digunakan untuk diameter lebih besar/sama dengan 10 mm.

Tulangan hendaknya disimpan di rak di atas tanah dan didukung sepanjang tulangan hingga tidak bengkok. Tulangan harus terlindungi dari hujan kelembaban udara dan sebagainya, dan karat-karat harus dibersihkan dan memenuhi kriteria SII 0136-84.

d. Kawat Bendrat
Bendrat atau kawat pengikat harus berukuran minimal 1 mm, kualitas baik dan tidak berkarat

e. Air kerja
Air untuk campuran dan untuk pemeliharaan beton harus dari air bersih dan tidak mengandung zat-zat yang dapat merusak mutu beton.

Begisting / Acuan Beton
a. Begesting harus cukup kuat, menggunakan kayu kalimantanklas III atau kayu tahun lokal yang baik dan tidak bocor (kedap air), apabila menggunakan papan ukuran minimal 2 x 15 cm.

b. Kayu steger dengan diameter minimal 7,5 cm, jarak pemasangan maximal 50 cm serta diberi kayu pengaku antar perancah, konstruksi cetakan beton tidak boleh menggunakan bambu.

c. Pemasangan begesting dan steger harus benar dan kokoh, sehingga dimensi dan peil sesuai dengan dimaksud.

d. Sebelum pengecoran, sisi dalam dari begesting harus disiram dengan air dan bebas dari kotoran atau benda - benda yang tidak diperlukan

Beton Decking

a. Beton deking harus dibuat khusus dengan ketentuan sebagai berikut :
Beton deking dari campuran lpc:3ps
Ukuran tebal beton deking, menyesuaikan ketentuan yang ada sedang panjang/lebarnya kurang lebih 5 x 5 cm. Tiap beton deking supaya diberi kawat beton untuk dapat diikatkan dengan besi tulangan, sehingga posisi beton deking terjamin ketepatannya. Beton, deking supaya dipasang secukupnya, sehingga menjamin ketebalan selimut beton.

b. Lapisan Penutup Beton / Lapisan pelindung Beton ditentukan sebagai berikut :
-Kolom = 1,5 cm
-Balok = 1,5 cm

Campuran Beton

a. Campuran beton dibuat dengan perkiraan perbandingan berat, sesuai dengan Job Mix Design.
b. Kekentalan, Banyaknya air untuk campuran beton harus ditentukan sedemikian rupa sehingga tercapai sifat mudah dikerjakan sesuai dengan penggunaannya. Untuk mencegah terjadinya air pada campuran beton berlebihan atau kurang, nilai slump harus berada dalam batasan yang disyaratkan SKSNI1991 Kolom, balok Slump : 12 ± 2 cm

Selimut beton

a. Yang dimaksud dengan selimut beton adalah jarak terkecil dari permukaan luar beton jadi dengan ujung atau permukaan logam (besi tulangan, kawat beton atau logam lainnya yang terdapat dalam struktur beton tersebut) .

b. Selimut beton dibuat sesuai kebutuhan yang termuat pada SK-SNI 1991.

c. Penggunaan pemisah antara baja beton dengan bekisting dibuat dengan tahu beton untuk menjamin tebal selimut tidak berobah saat pengecoran, dan tidak boleh dibuat dari kayu atau logam lainnya.

Penyetelan dan Penempatan Tulangan Beton

a. Pemasangan tulangan beton khususnya jarak-jarak antar tulangan, kelurusan, bengkokan dan panjang overlap sambungan harus mengikuti ketentuan SK-SNI 1991

b. Pembengkokan tulangan harus tenaga ahli dengan menggunanakan alat tidak boleh menimbulkan cacat, retak, patah dan sebagainya.

c. Sebelum meletakkan tulangan pada bekisting, hendaknya bekisting dalam kondisi bersih dari karat, campuran yang menyebabkan kerusakan pada tulangan. Diletakkan di atas dacking beton yang menjamin ketepatan posisi dan tebal selimut.

Pengadukan

a. Pengadukan semua beton harus dilaksanakan dengan mesin pengaduk beton (Beton Molen).

b. Campuran beton hendaknya dituangkan segera mungkin dari tempat adukan untuk menghindari terjadi segregasi.

Pengecoran

a. Sebelum pengecoran kebersihan cetakan beton dan kebenaran serta ketepatan pemasangan besi beton harus diperhatikan sebaik-baiknya.

b. Celah-celah antara papan harus cukup rapat sehingga pada waktu pengecoran tidak ada air adukan yang keluar.

c. Campuran beton hendaknya dituangkan paling lama 30 menit setelah pengadukan. Penuangan dilakukan sedemikian rupa agar terhindar dari segregasi antara agregat halus atau agregat kasar.

d. Tinggi jatuh penuangan harus kurang dari 1,5 m. Penggumpalan yang tebal dihindari agar tidak terjadi hidrasi pada cuaca panas.

e. Pengecoran harus betul-betul padat dengan menggunakan pemadat mekanis (vibrator).

f. Pemadatan Beton, setelah campuran beton dituangkan dalam acuan (begesting), harus diikuti dengan pemadatan dengan memakai alat getar (concrete vibrator)

Pembongkaran Begisting dan Perawatan Beton

Pembongkaran acuan dan perancah minimal beton tersebut dapat memikul beban sendiri dan pembongkaran begesting harus hati - hati supaya sisi sudut tajam tidak rusak.

a. Pelaksanaan curing merupakan salah satu aspek yang sangat menentukan terhadap ketahanan/keawetan beton di lingkungan agresif.

b. Mempersiapkan perlindungan dari pengaruh sinar matahari sehingga tidak terjadi penguapan / pengeringan yang terlalu cepat.

d. Mempersiapkan perlindungan beton yang baru dicor dari kemungkinan datangnya hujan.

e. Sekurang-kurangnya metode pemeliharaan yang harus dilaksanakan adalah dibasahi secara terus menerus selama 2 minggu.

No comments:

Post a Comment