Tahapan Pelaksanaan Pembangunan Jembatan

Tahapan dalam pembangunan jembatan terdiri dari antara lain
1. Pekerjaan struktur jembatan yang terdiri dari :
  • Penyediaan balok girder jembatan.
  • Galian Struktur Abutment jembatan
  • Pembuatan pondasi jembatan (Tiang Pancang, Bored Pile, Sumuran dll.)
  • Pembuatan abutmen jembatan
  • Pemsangan balok girder dilakukan diatas abutment dan pilar dengan terlebih dahulu dipasang elastomeric bearing.
  • Dilanjutkan dengan pemasangan diafragma tepi dan diafragma tengah diantara balok-balok girder yang sudah terpasang.
  • Pemasangan Plat deck yang berfungsi subagai begisting (bawah) lantai jembatan.
  • Pemasangan besi tulangan untuk lantai jembatan dan juga pemasangan pipa drainasi jembatan serta pemasangan pipa utilitas.
  • Pengecoran Lantai jembatan menggunakan beton K 350.
  • Pembuatan plat injak jembatan, plat injak jembatan dibuat dengan terlebih dahulu dipasang lantai kerja menggunakan beton K 125 dibawahnya.

2. Pekerjaan Oprit Jembatan terdiri antara lain
  • Pembuatan talud jalan menggunakan konstruksi beton bertulang atau pasangan batu kali
  • Pada talud jalan harus dipasang suling-suling untuk mengalirkan air.
  • Pemasangan kolom pengaman talud jalan
  • Penghamparan dan pemadatan tibunan sirtu
  • Penghamparan dan pemadatan Lapis pondasi Agregat Klas B
  • Penghamparan dan pemadatan Lapis Pondasi Agregat Klas A.
  • Pekerjaan Aspal yang terdiri dari penyemprotan Lapis Pengikat Aspal cair (Prime Coat), dilanjutkan dengan penghamparan Laston Lapis Pondasi AC-Base, selanjutnya dipasang lapis diatasnya yang terdiri dari Laston Lapis Antara (AC - BC) dan Laston Lapis Aus (AC-WC).
3. Pekerjaan Drainasi Jalan
  • Drainase jalan dibuat menggunakan konstruksi beton bertulang atau pasangan batu kali dengan mortar.
4. Pekerjaan Pelengkap meliputi:
  • Pembuatan tembok sedada dengan pasangan batu yang diplester dan difinishing dengan melakukan pengecatan. Pemasangan batu temple dan marmer
  • Pembuatan Trotoar dengan pemasangan kastin, diisi timbunan sirtu dipadatkan, finishing dengan batu alam.
  • Pemasangan Lampu Hias sesuai spesifikasi.
  • Pekerjaan marka jalan.

PEMASANGAN BALOK GIRDER + STRESING TERPASANG 

1. PCI Girder Pretension bentang 20 M.
Transportasi girder tersebut akan menempuh jarak yang cukup jauh dan ramai. Disamping itu, struktur ini merupakan main bridge. Proses pengiriman dan erection girder dilaksanakan oleh tim proyek sendiri.
PCI girder diproduksi dan disimpan pada stock yard pabrik sebelum dikirimkan ke lokasi.Pemindahan girder dari casting yard ke stock yard dan pengaturannya di areal pabrik
 
2. Pemeriksaan
Pemeriksaan dilakukan sebelum pengiriman untuk memastikan bahwa peralatan yang akan digunakan berada dalam kondisi yang layak dan memenuhi persyaratan K3. Pemeriksaan tersebut meliputi pemeriksaan hydraulic system, oli, rem,mesin, system elektrik, pin pengunci pada boogie, rantai pengikat, sling pengangkat, fixing (pengganjal) dan pemeriksaan pada komponen lainnya sehingga dapat dipastikan bahwa alat dapat berfungsi dengan normal dan aman.

3. Pengangkatan girder
Pengangkatan girder dari areal stock yard ke atas head trailer boogie menggunakan 2 buah gantry kapasitas 35 ton. Pengangkatan dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu :
  • Dengan cara mengalungkan seling ke badan girder
  • Mengangkat pada loop titik angkat girder
  • Pemasangan Hook Crane pada Loop Titik Angkat pada Girder
  • Girder diangkat kemudian diletakkan di atas head trailer boogie. Baja profil siku dipasang pada tepi sisi atas girder untuk menghindari kerusakan pada sudut flens girder, kemudian dipasang rantai, dikaitkan dan dikencangkan dengan menggunakan chain block atau turn buckle
  • Posisi stek girder diatur sedemikian rupa sehingga tidak melampaui badan head trailer boogie. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari tersangkutnya stek girder pada kendaraan atau benda-benda lainnya pada saat pengiriman dari stock yard ke lokasi struktur
  • Pada saat crane melakukan mobilisasi, maka loading girder di stockyard ke head trailer-boogie segera dilaksanakan. Pada hari yang sama dengan mobilisasi crane dan setting di lokasi, semua head head trailer-boogie mengangkut girder sehingga akan terdapat girder yang telah siap di lokasi pada saat crane telah setting.
4. Pengiriman GIRDER 
a. Setelah semua pemeriksaan kelengkapan dan kelayakan kendaraan di stock yard serta girder telah diposisikan di atas head trailer-boogie, maka girder siap diberangkatkan ke lokasi. Untuk mengirim girder dari stock yard ke lokasi diperlukan kendaraan pengawal yang berfungsi untuk memberikan tanda-tanda peringatan pada kendaraan umum pada saat berpapasan ataupun menyalip head trailer-boogie pengangkut girder di jalan raya. Kendaraan pengawal juga berfungsi untuk memberikan ruang yang memadai bagi trailer-boogie untuk bermanuver secara aman pada daerah padat lalu lintas. Kendaraan pengawal tersebut merupakan hal yang mutlak disediakan selama pengiriman girder terkait perilaku pengemudi di jalan raya yang memacu kendaraan dengan kecepatan tinggi di jalan raya dan seringkali memaksakan menyalip head trailer-boogie pada kondisi yang kurang aman.

b. Sopir boogie dibantu seorang asisten yang bertugas untuk membantu memberikan informasi tentang batas lintasan kendaraan, memeriksa kondisi boogie dan perlengkapannya selama pengiriman dan berfungsi sebagai perantara komunikasi antara sopir head trailer, sopir boogie dan kendaraan pengawal. Asisten sopir head trailer, asisten boogie dan kendaraan pengawal dilengkapi dengan alat komunikasi yang memungkinkan komunikasi dapat berjalan dengan baik.

c. Kecepatan maksimum head trailer-boogie selama pengiriman adalah 50km/jam. Pengiriman girder dari stock yard menempuh jarak sekitar 55 km dan melintasi beberapa kota ramai. Hal ini karena inclination jalan autoroute (jalan akses proyek dan main road) masih belum memadai untuk heavy traffic serta kondisi jalan yang tidak memadai. 

5. Kapasitas Crane dan Penyetingan
Kapasitas crane yang diperlukan dan jangkauan maksimum untuk mengangkat girder dihitung berdasarkan table berikut. 

SF = Safety Factor
Crane tipe mobile crane kapasitas 200t. Kapasitas crane untuk erection dapat lebih optimal jika menggunakan tipe mobile cranedan tidak terlalu besar kapasitasnya dibandingkan dengan tipe crawler crane.
Berdasarkan minimum kapasitas yang diperlukan tersebut dan ketersediaan crane di proyek ini, dapat ditentukan jangkauan maksimum dan panjang boom berdasarkan daya dukung crane yang tertuang dalam manual and operation alat. 


6. Pengaturan posisi crane
Pengaturan posisi crane di sekitar struktur diatur sedemikian rupa sehingga jangkauan maksimum dan panjang boom tidak melebihi seperti yang tertera pada Tabel di atas. Berdasarkan jangkauan maksimum tersebut, crane tidak dapat menjangkau pada semua lokasi struktur sehingga posisi crane harus digeser.
Sebelum melakukan setting crane di lapangan, maka dibuatkan terlebih dahulu rencana posisi crane selama erection sekaligus sebagai bahan untuk menyiapkan areal platform yang dibutuhkannya. 


7. Tahapan Pekerjaan Erection Pembuatan Jalan Akses
Jalan akses baik untuk lalu lintas head trailer-boogie dan platform untuk setting crane harus jauh jauh hari telah disiapkan . Akses jalan dibuat dengan mempertimbangkan kemudahan dan keamanan manuver head trailer-boogie dan crane di sekitar lokasi erection. Jalan akses yang disiapakan di sekitar lokasi dapat dilihat pada gambar berikut.

  8. Pembuatan Platform Crane
Areal sekitar struktur yang akan digunakan sebagai platform bagi crane dibuat rata dengan pemadatan yang cukup. Pengecekan terhadap kondisi platform dilakukan secara serius untuk menghindari settlement pada pijakan crane saat mengangkat girder.

  9. Material
Bearing pad yang akan didigunakan harus lolos uji lab dan hasilny memenuhi spesifikasi yang disyaratkan. Masing-masing bearing pad ditempatkan pada posisinya sesuai yang tertera pada control sheet. Dalam control sheet tersebut dicantumkan mengenai serial number masing-masing bearing pad, ketebalannya dan rencana posisi pemasangan. Hal ini dimaksudkan untuk kemudahan penelusuran penggunaan material tersebut.

  10. Marking Elevasi dan Posisi Bearing Pad
Permukaan mortar pad (dudukan untuk rubber bearing pad) dilakukan pengecekan terlebih dahulu dalam hal elevasi dan posisinya. Toleransi yang diijinkan adalah sebagai berikut :
· Toleransi elevasi bearing plinth diijinkan berbeda ±5mm dari rencana.
· Horisontality dari permukaan bearing plinth tidak boleh melebihi 1mm.
· Pada jembatan ini, dipasang tapper plate di atas bearing pad. Penggunaan tapper plate bertujuan untuk adjustment sehubungan dengan chamber girder sehingga beban ke rubber bearing pad menjadi lebih merata. Team survey memberikan marking pada permukaan bearing plinth. Posisi yang ditandai mencakup titik as bearing pad, batas luar dan arah bearing pad. 

  11. Tahap Pemasangan
Tahap 1
Pemasangan Rubber Bearing Pad
Rubber bearing pad dibawa ke lokasi dan ditempatkan sesuai dengan yang tertera dalam control sheet erection. Pemasangan dilakukan berdasarkan marking dari survey di atas bearing plinth.

Tahap 2
Penempatan Posisi Head trailer-Boogie dan Pengangkatan Girder
Pada saat sampai di lokasi struktur, head trailer-boogie bermuatan girder diposisikan sedemikian rupa sehingga dalam jangkauan kedua crane. Pengangkatan girder baru dimulai ketika telah dinyatan aman. Ikatan girder ke head trailer-boogie dilepaskan kemudian hydraulic hose yang terhubung dari head trailer ke boogie dilepaskan. Crane mulai mengangkat girder dengan perlahan dan hati-hati.

Tahap 3
Pengecekan Dimensi Girder di dudukan di atas bearing pad.
Pada saat mendudukan ini maka dilakukan pengecekan jarak (gap) antara ujung girder dengan backwall, eksentrisitas bearing pad terhadap design (marking survey). Eksentrisitas maksimum bearing pad terhadap design tidak diperkenankan melebihi 10mm.

Tahap 4
Pemasangan Perkuatan antara Girder
Demikian seterusnya untuk girder berikutnya. Perkuatan antar girder dipasang untuk menghindari robohnya girder yang telah terpasang. Ikatan sementara antar girder menggunakan baja tulangan yang dihubungkan antar girder dan dikaitkan pada shear connector girder. Selain ikatan sementara tersebut, struktur ini juga terdapat konstruksi dinding penahan geser, maka pada pemasangan girder pertama dapat juga ditumpukan pada dinding tersebut sebagai pengaman terhadap guling pada dinding tersebut.

Tahap 5
Pergeseran Posisi Crane
Pada saat jangkauan crane ke head trailer-boogie dan bearing plinth telah melebihi radius 20 m yang diijinkan, maka crane berpindah tempat sehingga masih tetap dapat menjangkau girder di atas head trailer-boogie dan masih dapat menempatkannya pada bearing plinth.
Pada bagian girder bagian akhir, maka posisi crane digeser sehingga dapat menjangkau girder dan tempat duduknya di atas bearing plinth. Pergeseran dilakukan dengan terlebih dahulu menurunkan semua counter weight. Hal ini dilakukan untuk menghindari rusaknya roda dan suspensi. Pergeseran posisi dilakukan pada kondisi crane tanpa counter weight. Pada saat crane telah dapat menjangkau titik angkat girder dan rencana bearing plinth, maka counter weight dipasang kembali. Posisi head trailer-boogie menyesuaikan dengan jangkauan crane.

No comments:

Post a Comment