Metode Pelaksanaan Pekerjaan Pembuatan Jembatan Gantung

Disamping adanya pembangunan infrastruktur berskala besar seperti jalan tol dan bendungan, Pemerintah juga terus melanjutkan pembangunan infrastruktur kerakyatan yang manfaatnya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, diantaranya adalah pembangunan jembatan gantung untuk meningkatkan konektivitas antar desa - desa. Hadirnya jembatan gantung akan mempermudah dan memperpendek jarak warga masyarakat perdesaan menuju sekolah, pasar, tempat kerja dan lain sebagainya.
Contoh Jembatan Gantung Simetris 120 M

Secara garis besar konstruksi yang digunakan dalam jembatan gantung diatas antara lain:
- Pondasi Tiang Bor Beton / Bored Pile diameter 400 mm
Pylon – Counter Weight dibuat dari beton bertulang
- Pengangkutan Jembatan Gantung dari pabrikan
- Pemasangan/merakit Jembatan Gantung
Dan karena akses menuju ke lokasi pembangunan jembatan gantung biasanya jalannya relatif sempit, sehingga pembangunan tidak memungkinkan untuk digunakan alat berat dengan kapasitas yang besar, maka dalam metode ini cenderung menggunakan mesin-mesin dengan kapasitas yg kecil. Berikut ini Kami uraikan tahapan pelaksanaannya;

1. Pembersihan dan Pengupasan Lahan kerja
Setelah melakukan pengukuran (survey lapangan) dan pematokan serta mendapatkan data-data lapangan yang diperlukan dalam pelaksanaan pekerjaan, maka pekerjaan dimulai dengan melakukan persiapan lahan kerja. 
Melakukan pengupasan dan pembersihan pada lokasi pekerjaan pembangunan jembatan serta oprit. Setelah lokasi pekerjaan dibersihkan dari sisa meterial bongkaran yang dapat mengganggu pekerjaan, maka segera dilakukan pembuatan jalan kerja. 
Pembersihan dan pengupasan lahan dilakukan secara manual (tenaga manusia) apabila lokasi tdak memungkinkan untuk dikerjakan menggunakan alat berat yaitu (excavator). 


2. Tiang Bor Beton, diameter 400 mm
Pekerjaan Persiapan 
Pekerjaan persiapan meliputi, persiapan lahan untuk merakit dan mendirikan mesin bor pada titik yang akan di bor. Pembuatan sumur air bila di dekat lokasi tersebut tidak terdapat air (untuk pengeboran dengan sistem wash boring), Pengadaan bak sirkulasi (untuk pengeboran dengan sistem wash boring), Pengadaan material dan perakitan baja tulangan. 

Pelaksanaan Pengeboran 
Pengeboran dengan sistem wash boring, tanah dikikis dengan menggunakan mata bor cross bit yang mempunyai kecepatan putar 375 rpm dan tekanan +/- 200 kg. Pengikisan tanah dibantu dengan tiupan air lewat lubang stang bor yang dihasilkan pompa sentrifugal 3″. Hal ini menyebabkan tanah yang terkikis terdorong keluar dari lubang bor. 
Setelah mencapai kedalaman rencana, pengeboran dihentikan, sementara mata bor dibiarkan berputar tetapi beban penekanan dihentikan dan air sirkulasi tetap berlangsung terus sampai cutting atau serpihan tanah betul-betul terangkat seluruhnya. Selama pembersihan ini berlangsung, baja tulangan dan pipa tremi sudah disiapkan di dekat lubang bor. 
Setelah cukup bersih, stang bor diangkat dari lubang bor. Dengan bersihnya lubang bor diharapkan mendapatkan hasil pengecoran baik. 

Pemasangan rangkaian Baja Tulangan dan Pipa Tremie 
Kerangka baja tulangan yang telah dirakit diangkat dengan bantuan diesel winch dalam posisi tegak lurus terhadap lubang bor dan diturunkan dengan hati-hati agar tidak terjadi banyak singgungan dengan lubang bor. Baja tulangan yang telah dimasukan dalam lubang bor ditahan dengan potongan tulangan melintang lubang bor. 
Setelah rangka baja tulangan terpasang, pipa tremi disambung dan dimasukkan kedalam lubang dengan panjang sesuai kedalaman lubang bor. 
Apabila pada waktu pemasangan baja tulangan terjadi singgungan dan terjadi keruntuhan di dalam lubang bor, maka diperlukan pembersihan ulang dengan memasang head kombinasi diameter 6″ ke diameter 2″. Dengan memompakan air kedalam stang bor dan pipa tremi, maka runtuhan-runtuhan dan tanah yang menempel pada besi tulangan dapat dibersihkan kembali. 
Pada saat pembersihan dilakukan, pengadukan beton bisa mulai dilakukan. 

Pekerjaan Pengecoran
Setelah pembersihan lubang bagian akhir selesai, head kombinasi dibuka dan diganti corong cor yang disambung dengan pipa tremi.
Pengecoran adalah bagian akhir dari pekerjaan bored pile dimana langkah pengecoran awal adalah bagian terpenting dari pekerjaan ini. Prosedur pengecoran yang biasa dilaksanakan pada pekerjaan bored pile adalah sebagai berikut. 

Untuk memisahkan adukan beton dari lumpur bor pada pengecoran awal, digunakan kantong plastik yang telah diisi adukan beton dan diikat dengan kawat beton yang digantung di bagian dalam lubang tremi.
Setelah tenaga cor siap, beton ditampung di dalam corong cor dan ditahan oleh bola-bola beton pada kantong plastik. Setelah cukup penuh, bola kantong plastik dilepas sehingga terdorong beton yang ada di dalam lubang tremi. Selanjutnya penuangan beton dilakukan dengan cepat sehingga cukup untuk mendorong air lumpur bor yang ada di dalam lubang tremi. Slump adukan beton untuk bored pile tidak boleh terlalu rendah (minimal 16 cm) sehingga mudah mengalir dan mendorong lumpur yang ada di dalam lubang bor. 

Pengecoran selanjutnya dilakukan secara kontinyu dan tidak terputus lebih dari 10 menit. Dengan sistem tremi ini pengecoran dimulai dari dasar lubang dengan mendorong air / lumpur dari bawah keluar lubang. 

Setelah pipa tremi penuh dan ujung pipa tremie tertanam beton biasanya beton tidak dapat mengalir karena ada tekanan dari bawah. Untuk memperlancar adukan beton didalam pipa tremi, dilakukan hentakan hentakan pada pipa tremi. Pipa tremi harus selalu terbenam dalam adukan beton dan pengisian di dalam corong harus dijaga terus menerus agar corong tidak kosong. 

Pipa tremi dilepas setiap 2 meter dan dilakukan setelah pipa tremi naik ke permukaan lubang lebih dari 2 meter. Pengecoran dihentikan setelah adukan beton yang naik ke permukaan telah bersih dari lumpur. 

Bila pengecoran dihentikan di bawah permukaan tanah (karena perhitungan adanya galian tanah), maka tinggi pengecoran minimal harus 0,5 meter di atas level rencana bagian atas bored pile (sampai beton pada rencana bagian atas tidak tercampur Lumpur lagi). 

Pembersihan dan pemasangan kembali. Setelah pekerjaan pengecoran selesai, semua peralatan dibersihkan dari sisa beton dan lumpur dan disiapkan kembali untuk dipakai pada titik bor berikutnya.
Adanya pipa tremi tersebut menyebabkan beton dapat disalurkan ke dasar lubang langsung dan tanpa mengalami pencampuran dengan air atau lumpur. Karena BJ beton lebih besar dari BJ lumpur maka beton makin lama-makin kuat untuk mendesak lumpur naik ke atas. Jadi pada tahapan ini tidak perlu takut dengan air atau lumpur sehingga perlu dewatering segala. Gambar foto di atas menunjukkan air / lumpur mulai terdorong ke atas, lubang mulai digantikan dengan beton segar tadi. 

Spesifikasi Teknis Alat Bor:
a. Rangka Mesin 
Rangka mesin ini mempunyai lebar 1,20 meter dengan panjang 3,00 meter terbuat dari besi kanal UNP yang berfungsi sebagai dudukan winch dan diesel penggerak. 
Menara bor yang ditempatkan pada ujung rangka, terbuat dari pipa besi galvanis ber-diameter 3-4 inch dengan ketebalan medium SII, berfungsi sebagai line / pengarah gear box terutama untuk pelurus vertikal pada saat pengeboran. 
Panjang menara bor ini bervariasi antara 6 sampai 9 meter tergantung kondisi lapangan. Kadang menara bor dipotong pendek apabila harus dioperasikan di dalam ruangan yang tingginya terbatas. Menara bor ini berfungsi juga sebagai penahan kerangka tulangan bored pile saat akan dimasukkan ke lubang bor. 

b. Penggerak Bor 
Rotasi pengeboran digerakkan oleh elektromotor kapasitas 7,50 HP dengan kecepatan rotasi 1.500 rpm. Rotasi ini diperlambat dengan speed reducer dengan ratio 1 : 40 sehingga diperoleh out put 90 kgm pada 37,50 rpm. 
Sumber listrik penggerak elektro diperoleh dari pembangkit listrik tenaga diesel berkapasitas 15 sampai dengan 35 KVA. 

c. Pipa Bor / Rod 
Pipa / Rod bor terbuat dari pipa besi galvanis / baja diameter 2,50 ” dengan ketebalan medium SII, yang mempunyai kekuatan moment torsi > 90 kgm. 

d. Mata bor 
Jenis mata bor yang dipakai disesuaikan dengan kondisi tanah yang dibor. Ada 2 jenis mata bor yang sering dipakai, yaitu;
  • Cross bit, digunakan pada pengeboran dengan sistem wash boring, disini air berfungsi sebagai media pengangkut / pendorong tanah hasil pengeboran.
  • Bor Spiral, digunakan pada saat pengeboran dengan sistem dry drilling

e. Katrol / Diesel Winch 
Diesel winch yang dipakai, dilengkapi dengan tambang baja (wire rope) yang mempunyai kekuatan angkat 2 ton dengan kecepatan 8 meter / per menit. 

f. Pompa 
Pompa hanya digunakan pada sistem wash boring. Dalam hal ini sering dipakai pompa sentrifugal yang berdiameter isap 3″ dan mempunyai tekanan 1,1 kg/cm2 yang dihubungkan ke stang bor menggunakan selang tekan berdiameter 2″. 

g. Corong Cor 
Corong cor digunakan sebagai penampung adukan beton yang akan dimasukkan ke dalam pipa tremi. Corong cor ini terbuat dari plat besi tebal 3 mm dan ber diameter 60 cm. Penyambungan corong cor dengan pipa tremie memakai sistem drat. 

h. Pipa Tremi 
Pipa tremi sebagai penghantar adukan beton terbuat dari pipa galvanis berdiameter 6 ” dengan ketebalan medium SII, panjang setiap pipa 2 meter yang disambung dengan sistem drat 

i. Alat Bantu 
Alat bantu yang sering diperlukan dalam pekerjaan pengeboran antara lain : 
  • Kunci pipa dan kunci rantai
  • Kunci pas dan kunci inggris
  • Cangkul, linggis, ember
  • Travo las, gerinda potong
  • Gegep dll.
j. Roller / Perakit Baja Tulangan 
Roller adalah alat untuk menggulung tulangan spiral jarak / sengkang spiral. Biasanya yang digunakan untuk spiral adalah tulangan polos karena baja tulangan ini memiliki sifat elastis. Diameter roller dibuat lebih kecil dari diameter bored pile sehingga didapat selimut / penutup beton yang tebalnya sekitar 5 7,5 cm. Untuk pemotongan dan pembengkok baja tulangan biasa digunakan mesin potong atau gunting tulangan konvensional. Untuk mengikat baja tulangan digunakan kawat beton dengan memakai alat gegep atau tang. 

Material Bored Pile: 
Material bored pile terdiri dari 
Beton: 
Cement Portland type 1. 
Aggregate kasar dari batu pecah / crushed stone ukuran 1 - 2 cm dan 2 - 3 cm.
Aggregate halus / pasir ukuran 0,1 - 4 mm dan bergradasi baik. 
Pencampurannya diaduk memakai mixer dengan perbandingan volume disesuaikan dengan hasil trial mix dari laboratorium. 
Apabila memungkinkan disarankan memakai beton readymix 

Baja Tulangan: 
Baja tulangan yang digunakan sesuai dalam gambar rencana 

Air kerja: 
Air yang digunakan adalah air bersih sesuai ketentuan Peraturan Beton Indonesia. 

Alat Pengaduk Beton: 
Untuk beton digunakan beton ready mix atau beton site mix. 
Pengadukan beton,site mix menggunakan mixer beton kapasitas minimal 0.3-0.6 M3 sekali aduk yang digerakkan dengan mesin diesel / elektromotor. Alat takar campuran beton dibuat dari kotak kayu / besi plat dengan volume sesuai kebutuhan untuk campuran 1 zak semen. 
Adukan dari mixer beton dituangkan kedalam bak penampung beton yang terbuat dari papan yang kedap air dengan ukuran 1 x 2 x 0,30 cm. Dari bak penampung beton ini, adukan beton diisikan ke corong tremi dengan menggunakan sekop / ember cor. 

Testing Material: 
Semua material yang digunakan seperti: semen, air, aggregat kasar, agregat halus dan besi beton dapat ditest di laboratorium untuk memeriksa kualitasnya. 
Slump test: pengujian slump biasa dilakukan untuk mengetahui workability adukan beton yang ada. 
Pengujian benda uji silinder/kubus: test silinder/kubus dengan compressive strength test biasanya dilakukan pada umur beton 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Hal ini dilakukan untuk mengetahui mutu beton yang dihasilkan. 


3. Pengujian Crosshole sonic logging (CSL) pada Tiang bor beton diameter 400 mm 
Pengujian CSL bertujuan untuk menilai integritas atau mutu pondasi tiang bor beton. Dengan menggunakan pengujian ini, dapat mengetahui kondisi beton apakah mengalami penggumpalan atau tidak. Pengujian CSL memerlukan beberapa sensor pendukung seperti Trasmitter dan Receiver, lalu membutuhkan pipa besi, data logger, kabel sensor dan komputer Cross Holl Ultrasonic Monitoring (CHUM). 

Sensor Trasmitter dan Receiver dimasukkan kedalam lobang yang telah disiapkan sebelumnya. Pengujian dilakukan setelah beton seluruhnya kering dengan persentase 80% atau umur beton 2 minggu setelah pengecoran. 
Pemasangan Croshole Sonic Logging adalah sensor Transmitter dan Receiver dihubungkan dengan menggunakan komputer CHUM dan data pengujian akan dapat ditampilkan pada layar tersebut. 

Setelah dilakukan pengujian maka akan mendapatkan gelombang yang bisa langsung dianalisa dan dihitung untuk mengetahui ketahanan beton dan nilai rambatnya. Pengujian dengan metode ini dapat dilakukan berulang kali untuk mendapatkan nilai yang akurat/ 


4. Pekerjaan Galian Struktur
Pekerjaan Galian Struktur meliputi: 
Galian Struktur dengan kedalaman 0 – 2 meter 
Galian Struktur dengan kedalaman 2 – 4 meter 
Galian Struktur dengan kedalaman 4 – 6 meter 
Pekerjaan Galian Struktur dapat dikerjakan sebelum atau setelah pekerjaan pondasi tiang bor beton selesai, tergantung kepada kondisi tempat kerja di lapangan. 

Setelah dilakukan pengukuran dilapangan dan telah ditentukan lokasi untuk bangunan Pylon dan Counter Weight, maka segera dilakukan pekerjaan galian struktur. Pekerjaan ini dilaksanakan dengan menggunakan alat berat (excavator). Penggalian dilaksanakan menurut kelandaian, garis dan elevasi yang ditunjukkan dalam gambar rencana. Material hasil galian disingkirkan dari lokasi pekerjaan. Pekerjaan galian dilaksanakan dengan gangguan seminimal mungkin terhadap bahan diluar batas galian. Untuk pelaksanaan pekerjaan galian struktur (terutama galian yang dalam) agar diperhatikan dengan cermat elevasi galian / kemiringan sisi galian agar terhindar dari bahaya longsor. Dan untuk pengamanan tebing/dinding galian dipasang turap pengaman. 

Dibuat Cofferdam untuk mencegah air masuk kedalam lubang galian dan lokasi pekerjaan. Dibuat saluran pengelak untuk mengalihkan aliran air, dilakukan dewatering untuk membuang air rembesan yang masuk dalam lubang galian/lokasi pekerjaan. Pekerjaan Dewatering menggunakan mesin pompa air untuk menyedot dan membuang air yang berada dalam galian / lokasi pekerjaan, sehinggga lokasi pekerjaan dalam kondisi bebas air dan siap untuk dilakukan pekerjaan pembuatan Pylon jembatan. 


5. Pembuatan dan Pengecoran Pylon dan Counter Weight
Setelah pekerjaan pondasi tiang bor beton selesai dan elevasi galian struktur telah sesuai dengan yang ditunjukkan dalam gambar rencana, maka pekerjaan Pylon/abutment dapat dimulai dengan tahapan sebagai berikut 

a. Beton, fc'10 Mpa (untuk pembuatan lantai Kerja) 
Lantai kerja dibuat menggunakan beton fc’=10 Mpa dengan ketebalan 10 cm atau sesuai yang diperintajkan Direksi Pekerjaan. Lantai kerja dibuat seluas dasar abutment dan dasar wing wall, dan elevasi top lantai kerja adalah sama dengan elevasi top dari tiang pancang yang telah dipotong serta diratakan bagian atasnya,. Sebelum dibuat lantai kerja, lokasi diratakan dan dipadatkan dengan baik. 

b. Baja tulangan sirip BjTS 420A (untuk pembesian Pylon – Counter Weight) 
Baja tulangan untuk pembuatan Pylon/abutment disiapkan sesuai gambar rencana. 
  • Tulangan harus dibersihkan sesaat sebelum pemasangan untuk menghilangkan kotoran, lumpur, oli, cat, karat dan kerak, percikan adukan atau lapisan lain yang dapat mengurangi atau merusak pelekatan dengan beton.
  • Tulangan harus ditempatkan akurat sesuai dengan gambar dan dengan kebutuhan selimut beton minimum yang disyaratkan (tebal selimut atas dan samping 5cm, tebal selimut bawah 10cm).
  • Batang tulangan harus diikat kencang dengan menggunakan kawat pengikat sehingga tidak tergeser pada saat pengecoran.
  • Seluruh tulangan harus disediakan sesuai dengan panjang total yang ditunjukkan pada Gambar. Penyambungan (splicing) batang tulangan, terkecuali ditunjukkan pada Gambar, tidak akan diijinkan tanpa persetujuan tertulis dari Direksi Pekerjaan. Setiap penyambungan yang dapat disetujui harus dibuat sedemikian hingga penyambungan setiap batang tidak terjadi pada penampang beton yang sama dan harus diletakkan pada titik dengan tegangan tarik minimum.
  • Bilamana penyambungan dengan tumpang tindih disetujui, maka panjang penyaluran minimum haruslah 40 diameter batang dan batang tersebut harus diberikan kait pada ujungnya.
  • Simpul dari kawat pengikat harus diarahkan membelakangi permukaan beton sehingga tidak akan terekspos.
  • Tidak boleh ada bagian baja tulangan yang telah dipasang boleh digunakan untuk memikul perlengkapan pemasok beton, jalan kerja, lantai untuk kegiatan bekerja atau beban konstruksi lainnya.
c. Pekerjaan Beton Struktur fc’20Mpa (untuk Pengecoran Pylon dan Counter Weight) 
Tahapan pekerjaan sebagai berikut; 
  • Pekerjaan dilakukan secara bertahap, footing dimulai dengan pemasangan begisting/acuan pada tiap sisi samping footing.
  • Pemasangan tulangan pada footing, dipasang sesuai dengan dimensi dan jarak yang ada gambar kerja, pada tiap pertemuan anyaman tulangan dengan tulangan diikat dengan kuat menggunakan kawat bendrat.
  • Tebal selimut beton perlu diperhatikan, dengan cara dipasang beton deck (beton tahu) untuk mengganjal tulangan pokok. (tebal selimut atas dan samping 5cm, selimut bawah 10cm)
  • Sebelum dilakukan pengecoran footing, tulangan untuk badan harus sudah ditanam/dirangkai didalam footing.
  • Pengecoran diutamakan menggunakan beton ready mix apabila memungkinkan. Perlu diingat bahwa selama pelaksanaan pengecoran, beton dipadatkan dengan cara digetarkan menggunakan alat penggetar mekanis/vibrator. Alat penggetar dimasukkan dalam adukan beton dan alat penggetar tidak diperbolehkan berada pada satu titik selama lebih dari 30 detik, kemudian alat penggetar ditarik perlahan dan dimasukkan lagi, jarak paling sedikit 45 cm dari titik sebelumnya. Ini penting dilaksanakan agar beton tidak keropos dan didapatkan beton yang padat dan rapat.
  • Setelah beton footing sudah cukup keras dan kuat, dilanjutkan pembuatan badan, dilakukan pemasangan tulangan untuk badan, dilanjutkan dengan pemasangan begisting/acuan untuk.
  • Pengecoran badan selanjutnya dilakukan dengan cara yang sama hingga sampai selesai.
  • Perlu diperhatikan sebelum dilakukan pengecoran angkur yang dibutuhkan untuk jembatan harus sudah ditanam/dirangkai.
  • Beton dirawat dengan cara menbasahi/menyiram secara periodik menggunakan air bersih atau menyelimutinya menggunakan bahan yang dapat menyerap air dan dibuat jenuh paling sedikit selama 3 hari setelah pengecoran.
  • Setiap takaran beton dilakukan pengujian slump untuk mengetahui tingkat kekuatan beton muda dan mengetahui tingkat kelecakannya/ workability.
  • Setiap pengecoran diambil sampel beton atau sesuai dengan ketentuan dalan Spesifikasi Teknis, untuk dilakukan uji kuat tekan, masing-masing untuk umur setelah 7 hari, 14 hari dan 28 hari. Benda uji dapat berupa kubus ataupun silinder.

6. Pengangkutan dan Pemasangan Jembatan Gantung 
Berikut ini adalah langkah demi langkah dalam melaksanakan pemasangan jembatan di lapangan. 
  • Sebelum memulai langkah pertama, demi kelancaran pekerjaan dianjurkan untuk mengadakan pemeriksaan secara menyeluruh sebagai berikut:
  • Bongkar peti-peti packing dan cocokan isi peti dengan packing list yang terlampir.
  • Periksa semua bahan yang perlu disediakan dilapangan.
  • Siapkan semua alat bantu yang diperlukan
  • Baca buku pedoman secara menyeluruh untuk mendapatkan gambaran cara pemasangan
  • Periksa mur baut sesuai ukurannya masing-masing, dan pisahkan menurut jenisnya.
a. Langkah Merakit dan Mendirikan Portal 
Sebelum mendirikan menara atau kolom perlu dipersiapkan alat-alat bantu seperti box bantu, seling, tacle dan sebagainya, selanjutnya ikuti prosedur sebagai berikut: 
  • Cor angkur portal pada bangunan bawah
  • Dirikan box bantu
  • Dirikan kaki portal atau menara pada angkurnya
  • Pasang batang pengaku
  • Lanjutkan menyambung kaki menara atau portal ke segmen berikutnya.
  • Kencangkan semua baut yang ada.
  • Pasang dudukkan kabel ( sadel / roller)
b. Langkah Menarik Kabel Utama
  • Kuncikan ujung kabel utama pada blok angkur.
  • Tarik ujung kabel ke seberang sungai dengan bantuan seling yang dibentang.
  • Naikan kabel ke atas sadel atau dudukkan kabel dan pasang tutupnya.
  • Pasang ujung kabel ke blok angkur ujung yang satunya
  • Stel kabel utama dengan pesediaan resistan atau persediaan lenturan kabel sebelum dan sesudah dibebani
c. Langkah Memasng Hanger Utama dan Girder
  • Buatlah tangga gantung dari tambang atau bambu dan pasang pengait pada ujungnya.
  • Gantungkan tangga pada kabel utama dan tali erat erat
  • Pasang hanger utama
  • Pasang angkur ujung jembatan
  • Stel rangkaian batang bawah
  • Stel batang vertikal ke batang bawah sekaligus pasangkan plat buhul
  • Stel batang melintang dan pagar.
  • Stel rangkaian batang bawah, batang vertikal dan batang melintang tersebut dengan hanger utama.
  • Stel batang rangkaian atas ke rangkaian yang sudah tergantung tersebut, sekaligus batang tegak sandaran.
  • Pasang batang-batang diagonal dan kencangkan semua baut.
  • Lanjutkan pada segmen berikutnya dangan langkah awal merangkai batang bawah terlebih dahulu
  • Pelaksanaan pemasangan dapat dilakukan dari dua arah atau dari kedua ujung jembatan
  • Kencangkan semua baut
d. Langkah Memasang Railling dan Stel Kelemngkungan
Setelah struktur jembatan terpasang, maka langkah selanjutnya adalah memasang batang sandaran (railling), stel kelengkungan dengan menggunakan walfer mur utama. 

e. Langkah Memasang Kabel Angin
  • Bentangkan kabel angin dan tarik keseberang sungai
  • Pasang ikatan angin pada kabel angin
  • Kencangkan kabel angin kanan-kiri
f. Langkah Papan/Plat Lantai Jembatan 
Sebagai langkah terakhir dari pelaksanaan pemasangan jembatan gantung ini adalah pemasangan papan/plat lantai jembatan. 

g. Pemeriksaan dan Testing 
Setelah perakitan dan pemasangan jembatan selesai dianjurkan untuk mengadakan pemeriksaan dan pengetesan sederhana sebagai berikut : 
  • Periksa kembali ukuran-ukuran jembatan yang jelas, buat daftar penyimpangan penyimpangan yang terjadi, kemudian dibuat gambar jembatan terpasang (As Built Drawing). Dokumen ini disimpan baik-baik mungkin akan berguna dikemudian hari.
  • Periksa kembali kekencangan baut maupun klem-klem kabel.
  • Periksa kabel utama apakah telah berada pada kedudukan kabel (sadel) dengan tepat dan lumasilah dengan gemuk untuk mengurangi keausan akibat gesekan.
  • Periksa kembali elevasi jembatan dan atur sesuai elevasi yang direncanakan
  • Periksa goyangan jembatan, dengan mengecek kekencangan ikatan angin
  • Cat kembali bagian-bagian yang lecet akibat pelaksanaan pemasangan.
  • Adakan uji pembebanan sederhana dengan uji beban yang disyaratkan.
h. Pemeliharaan 
Pemeliharaan yang baik akan memperpanjang umur jembatan, menjaga tetap berfungsinya jembatan sesuai dengan yang diharapkan. Pemeliharaan rutin juga dimaksudkan untuk mengetahui kemungkinan akan terjadinya kerusakan yang dapat menimbulkan bahaya. Pemeliharaan yang bersifat pencegahan adalah untuk menjaga agar tidak dibebani diluar batas yang diijinkan. Walaupun kemungkinan terjadinya kecil, perlu diketahui bahwa jembatan gantung tidak dapat menerima beban-beban hentakan secara bersamaan dan terus menerus dengan irama tetap. Sebagai contoh tidak dibenarkan ada sekelompok orang melakukan baris-berbaris diatas jembatan. Pemeliharaan rutin disarankan pada hal-hal tersebut di bawah ini: 


Pencegahan kerusakan karat.
  • Periksa secara rutin semua waltermur baik waltermur kabel utama, waltermur hanger utama, waltermur kabel angin maupun waltermur ikatan angin, lumasilah baut-bautnya denga gemuk agar tidak berkarat. Pemberian gemuk pada sepanjang kabel harus dilakukan sebelum gemuk terkelupas.
  • Pengecatan kembali secara bertahap terhadap komponen yang perlu dicat, jangan sampai ada permukaan yang tidak tertutup cat.
Pencegahan terlepasnya mur-mur sangat penting. Mur baut perlu diperiksa secara rutin dan kecangkan bila ada yang kendor, bila mur sudah aus adakan pergantian mur baut. 

Penggantian komponen yang rusak. 
  • Gantilah papan/plat lantai yang rusak/lapuk
  • Cepat ganti mur baut yang sudah kendor dratnya atau rusak.
Pemeliharaan tanah dan lingkungan jembatan . 
  • Periksa kondisi tanah pada pondasi, perubahan letak pondasi berarti tidak kuatnya tanah dasar.
  • Periksa kemungkinan tanah longsor atau erosi yang dapat mempengaruhi kestabilan pondasi.

7. Keselamatan dan Kesehatan Kerja
Dalam setiap kegiatan konstruksi wajib melaksanakan ketentuan-ketentuan penanganan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) konstruksi kepada setiap orang yang berada di tempat kerja yang berhubungan dengan pemindahan bahan baku, penggunaan peralatan kerja konstruksi, proses produksi dan lingkungan sekitar tempat kerja. 

Penanganan K3 mencakup penyediaan sarana pencegah kecelakaan kerja dan perlindungan kesehatan kerja konstruksi maupun penyediaan personil yang kompeten dan organisasi pengendalian K3 Konstruksi sesuai dengan tingkat resiko yang ditetapkan oleh Pengawas pekerjaan. Sistem Manajemen K3 Konstruksi Membuat, menerapkan dan memelihara prosedur untuk identifikasi bahaya, penilaian risiko dan pengendaliannya secara berkesinambungan sesuai dengan Rencana K3 Kontrak (RK3K) yang telah disetujui oleh Pengawas Pekerjaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar